EV atau PHEV, Mana yang Lebih Cocok untuk Jalanan Indonesia? Ini Jawabannya

EV atau PHEV, Mana yang Lebih Cocok untuk Jalanan Indonesia? Ini Jawabannya

Apa beda mobil EV dan PHEV? Simak kelebihan, kekurangan, cara kerja, biaya perawatan, hingga tips memilih yang sesuai kebutuhan.--YouTube

LAMPUNG.DISWAY.ID - Perkembangan kendaraan elektrifikasi membuat pilihan mobil di pasar semakin beragam. Selain mobil listrik murni atau Electric Vehicle (EV), konsumen kini juga mulai mengenal Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Sekilas, keduanya sama-sama mengandalkan tenaga listrik dan dapat menggunakan baterai sebagai sumber energi. 

Namun, teknologi EV dan PHEV sebenarnya memiliki perbedaan mendasar, terutama pada sistem penggerak, sumber energi, cara pengisian baterai, hingga kebutuhan perawatan.

Memahami perbedaan tersebut menjadi penting bagi calon konsumen sebelum membeli kendaraan elektrifikasi. 

BACA JUGA:Daftar Mobil PHEV di Indonesia 2026, Mana yang Paling Menarik Dibeli?

Sebab, tidak ada satu teknologi yang mutlak paling cocok untuk semua orang. Pilihan terbaik sangat bergantung pada pola penggunaan, akses pengisian daya, jarak perjalanan, serta kebutuhan berkendara.

Secara teknis, EV yang dimaksud dalam konteks mobil listrik murni adalah Battery Electric Vehicle (BEV). 

Kendaraan jenis ini hanya mengandalkan motor listrik dan baterai, tanpa mesin pembakaran internal. Sementara PHEV menggabungkan motor listrik, baterai dan mesin pembakaran internal berbahan bakar bensin.

Apa Itu Mobil EV?

Mobil EV atau BEV merupakan kendaraan yang seluruh tenaga penggeraknya berasal dari listrik yang tersimpan di dalam baterai.

BACA JUGA:Review Neta V-II 2026: Mobil Listrik Murah dengan Fitur Melimpah, Masih Layak Dibeli?

Tidak seperti mobil konvensional, EV tidak memiliki mesin bensin yang digunakan untuk menggerakkan kendaraan. 

Baterai diisi menggunakan sumber listrik eksternal, baik melalui pengisian di rumah maupun stasiun pengisian kendaraan listrik.

Karena tidak menggunakan mesin pembakaran internal, EV tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot ketika digunakan. 

Sistem penggeraknya juga relatif lebih sederhana karena tidak membutuhkan berbagai komponen mesin konvensional seperti sistem pembakaran, oli mesin, maupun transmisi dengan kompleksitas seperti kendaraan berbahan bakar minyak.

Sumber: