Berawal dari Tikar dan Buku Seadanya, Pemuda Lampung Tengah Bangun Kampung Seni
Berawal dari tikar dan buku seadanya, pemuda Lampung Tengah membangun Kampung Seni sebagai ruang literasi, kreativitas, dan pelestarian budaya.--
LAMPUNG.DISWAY.ID - LAMPUNG TENGAH - Sebuah gerakan kreatif di Kabupaten Lampung Tengah bermula dari sesuatu yang sederhana: bentangan tikar dan sejumlah buku seadanya.
Dari tempat sederhana tersebut, sekelompok anak muda kemudian membangun sebuah ruang kreatif bernama Kampung Seni Lamteng.
Komunitas independen ini hadir sebagai wadah bagi generasi muda untuk membaca, belajar, berkarya, sekaligus mengenal dan menjaga kekayaan budaya lokal.
Kampung Seni Lamteng resmi berdiri pada 23 April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buku Sedunia.
Kehadirannya dilatarbelakangi keprihatinan para penggagas terhadap kondisi literasi di Kabupaten Lampung Tengah. Mereka melihat indeks membaca daerah tersebut masih berada di posisi kedua terendah di Provinsi Lampung.
BACA JUGA:69 Mahasiswa Kesmas Universitas Malahayati Mulai PBL di 11 Puskesmas Kota Metro
Di sisi lain, ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan kreativitas dan mengembangkan potensi juga dinilai masih terbatas.
Kondisi tersebut mendorong para pemuda untuk membuat ruang alternatif yang dapat diakses masyarakat secara lebih terbuka.
Pada tahap awal, kegiatan Kampung Seni Lamteng dilakukan secara sederhana di Coffee Shop Evedose, Bandarjaya Timur. Para penggerak hanya menggelar tikar dan menyediakan koleksi buku yang tersedia untuk dibaca masyarakat.
Namun, keterbatasan fasilitas tidak menghalangi semangat mereka untuk bergerak.
BACA JUGA:BYOND by BSI Hadirkan Promo Tiket MotoGP Mandalika, Diskon hingga Rp375 Ribu
Seiring waktu, kegiatan Kampung Seni Lamteng berkembang dan menjangkau berbagai aktivitas yang lebih luas. Salah satunya melalui pembukaan lapak baca publik di kawasan Taman Gotong Royong.
Ruang tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk aktivitas membaca. Kampung Seni Lamteng juga mulai menghidupkan kembali berbagai permainan tradisional bagi anak-anak dan remaja.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya komunitas untuk menghadirkan alternatif kegiatan di tengah semakin kuatnya pengaruh teknologi dan dunia digital terhadap kehidupan anak muda.
Dari Literasi hingga Pelestarian Budaya
Sumber: