Hadis Setan Dibelenggu Saat Ramadan: Penjelasan Makna Kiasan Menurut Ustadz Adi Hidayat
Hadis Setan Dibelenggu Saat Ramadan: Penjelasan Makna Kiasan Menurut Ustadz Adi Hidayat--
LAMPUNG.DISWAY.ID - Bulan Ramadan sering disebut sebagai musim ibadah karena di dalamnya semangat kebaikan meningkat di tengah umat Muslim. Namun muncul pertanyaan yang kerap dibahas: jika setan disebut dibelenggu saat Ramadan, mengapa masih ada orang yang bermalas-malasan dalam ibadah dan tetap melakukan maksiat?
Pertanyaan ini pernah diangkat dalam sebuah kajian oleh Adi Hidayat ketika berdialog dengan komedian Bedu. Pembahasan tersebut merujuk pada hadis sahih yang sangat populer tentang kondisi setan di bulan Ramadan.
Hadis yang dimaksud diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
"Ketika Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR Muslim). Redaksi hadis ini sering dipahami secara harfiah, sehingga menimbulkan kebingungan saat realitas di lapangan tampak berbeda.
Dalam penjelasannya, Adi Hidayat menyoroti letak kesalahpahaman yang sering terjadi. Menurutnya, sebagian orang langsung menyimpulkan bahwa karena setan dibelenggu, maka seharusnya tidak ada lagi godaan maksiat.
Padahal, para ulama hadis telah lama menjelaskan bahwa redaksi tersebut dapat dipahami secara maknawi atau kiasan.
Makna kiasan itu menggambarkan perubahan besar pada atmosfer ibadah selama Ramadan. Di bulan ini, banyak orang yang meningkatkan amal: dari yang sebelumnya hanya menjalankan ibadah wajib menjadi menambah ibadah sunnah, dari yang jarang membaca Al-Qur’an menjadi rutin tilawah, serta lebih giat bersedekah dan bertaubat.
Ketika amal saleh meningkat dan pintu maksiat ditutup oleh pelakunya sendiri, ruang gerak godaan setan menjadi sempit. Dalam kondisi seperti itu, setan seakan “terbelenggu” karena jalur pengaruhnya melemah. Godaan tetap ada, tetapi tidak sekuat di luar Ramadan bagi orang yang sungguh-sungguh menjaga diri.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak otomatis berlaku untuk setiap orang. Jika seseorang tidak mengubah kebiasaan buruknya dan tetap membuka pintu maksiat, maka godaan tetap mudah masuk. Karena itu, hadis tentang setan dibelenggu tidak bisa dijadikan alasan bahwa manusia pasti menjadi taat tanpa usaha pribadi.
Intinya, ungkapan setan dibelenggu menurut banyak ulama dipahami sebagai gambaran melemahnya pengaruh godaan karena meningkatnya gelombang ibadah dan taubat di bulan Ramadan. Hasil akhirnya tetap bergantung pada respons masing-masing individu dalam memanfaatkan momentum tersebut.
Ramadan membuka peluang kebaikan seluas-luasnya, tetapi manfaatnya hanya diraih oleh mereka yang aktif menyambutnya dengan amal dan perbaikan diri.
Sumber: