Rindu Ramadan di Lampung, Idris Ahmad Rifai Tempuh Studi Doktoral di Tunisia

Rindu Ramadan di Lampung, Idris Ahmad Rifai Tempuh Studi Doktoral di Tunisia

Rindu Ramadan di Lampung, Idris Ahmad Rifai Tempuh Studi Doktoral di Tunisia--

LAMPUNG.DISWAY.ID - Ramadan selalu menghadirkan kenangan tersendiri. Bagi Idris Ahmad Rifai, bulan suci bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga waktu yang menghadirkan kerinduan mendalam pada kampung halaman di Kemiling, Bandar Lampung.

Suasana tarawih bersama keluarga serta ramainya penjual takjil menjadi momen yang paling ia rindukan selama menetap di Tunisia.

Idris merupakan putra asli Lampung yang tumbuh dan besar di Sumberejo, Kemiling. Pendidikan dasarnya ia tempuh di daerah tersebut sebelum melanjutkan ke jenjang MTs dan MA sambil menimba ilmu di Pesantren Al-Hikmah Bandar Lampung hingga lulus pada 2012.

Dari pesantren itulah perjalanan akademiknya mulai terbuka lebar. Ia berhasil meraih Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Beasiswa tersebut membawanya melanjutkan studi ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

BACA JUGA:Bunda Eva Dorong Peningkatan Layanan Transportasi, Janji Perjuangkan PPPK Paruh Waktu

Setelah menamatkan pendidikan S1, Idris sempat kembali ke pesantren untuk mengabdi selama sekitar satu setengah tahun. Namun, keinginannya memperdalam ilmu mendorongnya melangkah lebih jauh.

Tahun 2018 menjadi babak baru dalam hidupnya. Ia bertolak ke Tunisia, negara di Afrika Utara yang dikenal memiliki tradisi keilmuan Islam kuat. Program magister ia tempuh di University of Ez-Zitouna dengan bidang studi yang tetap linear, yakni Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Kini, Idris melanjutkan pendidikan doktoral di University of Tunis El Manar. Fokus kajiannya berkembang ke ranah sastra, linguistik, serta peradaban Arab.

Menjadi mahasiswa di Tunisia bukanlah hal mudah. Tidak tersedia kelas persiapan bahasa bagi mahasiswa asing. Sejak awal perkuliahan, ia harus langsung mengikuti kelas berbahasa Arab dan Perancis.

BACA JUGA:Tangis Bahagia Warnai Ramadan, Telkomsel Ajak Anak Panti Belanja dan Buka Puasa Bersama

Menurutnya, masyarakat Tunisia lebih fasih menggunakan Perancis dibandingkan bahasa Inggris, sehingga menjadi tantangan tersendiri di masa awal adaptasi.

Selain bahasa, perbedaan budaya dan iklim juga menjadi ujian. Tunisia memiliki empat musim, termasuk musim dingin yang cukup ekstrem bagi warga negara tropis seperti Indonesia. Karakter masyarakat yang lugas dan tegas juga menuntutnya menyesuaikan cara berkomunikasi.

Di tengah kesibukan studi, Idris juga bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tunisia. Ia membagi waktu antara riset akademik, pekerjaan, dan aktivitas komunitas yang ia dirikan, yakni Zaytuna Quranic dan Maqshaduna.

Komunitas tersebut awalnya diperuntukkan bagi mahasiswa Indonesia. Namun seiring waktu, berkembang menjadi ruang belajar lintas negara.

Sumber: