Indonesia, dengan segala kekurangannya, justru berkali-kali menunjukkan elastisitas sosial yang luar biasa.
Hari ini, ketangguhan itu menjadi semakin relevan dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian.
Dunia sedang menghadapi fragmentasi geopolitik, perang dagang, krisis energi, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi global.
BACA JUGA:Sengketa Keluarga dan Yayasan Mencuat, Rosnati Syeh Minta Keadilan Secara Hukum
Dalam situasi seperti ini, Indonesia memiliki posisi strategis yang sangat penting.
Indonesia berada di jalur utama Indo-Pasifik, memiliki sumber daya alam besar, bonus demografi, pasar domestik yang kuat, dan stabilitas sosial yang relatif terjaga.
Sekitar 70 persen populasi Indonesia berada pada usia produktif. Kelas menengah terus tumbuh. Konsumsi domestik menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Di sektor hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, ekonomi digital, industri halal, hingga pariwisata, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dunia.
Ekonomi digital Indonesia bahkan diproyeksikan melampaui US$130 miliar dalam dekade ini.
BACA JUGA:Nama Tito Sulistio dan Jabatannya di OJK Disorot Usai Vonis CMNP Vs Hary Tanoe
Cadangan nikel Indonesia yang termasuk terbesar di dunia juga menjadikan Indonesia pemain strategis dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Namun di tengah semua potensi tersebut, skeptisisme terhadap Indonesia masih terus muncul.
Sebagian masih melihat Indonesia hanya dari sisi birokrasi, kebisingan politik, atau tantangan infrastrukturnya.
Mereka sering salah membaca dinamika demokrasi Indonesia sebagai kelemahan, padahal justru itulah tanda masyarakat yang hidup dan terus berkembang.
Sejarah menunjukkan bahwa meremehkan Indonesia hampir selalu menjadi kesalahan analisis.
Karena perjalanan Indonesia tidak pernah dibangun dalam situasi mudah.