Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1)

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 1)

Azrul Ananda mengisahkan dirinya yang tidak lulus SMA dan tak memiliki ijazah. Simak perjalanan pertukaran pelajar hingga keputusan yang mengubah hidupnya.--

BACA JUGA:Kemendikdasmen Kolaborasikan Sejumlah Program dengan DBL Indonesia, Salah Satunya Super Teacher

Yang "agak beruntung" adalah salah satu teman terdekat saya waktu itu. Dia dikirim ke "kota beneran" di Florida. Dia pintar. Dia menulis "alergi hawa dingin" di aplikasinya!

Saya? Saya dapat negara bagian Kansas. Tepat di tengah Amerika. Tempat bayi Superman mendarat saat dilarikan dari Kripton.

Setelah bersedih-sedihan, kami pun berpisah sendiri-sendiri. Baru akan ketemu --kalau semua selamat-- saat pulang bersama Juli tahun depannya.

Ingat, belum ada internet. Belum ada handphone. Belum ada video call. Bahkan menelepon biasa pun mahal biayanya.

***

Saya mendarat di Kansas. Sempat singgah di sebuah rumah sementara di kota Lyon (penduduk 5.000), sebelum geser ke Ellinwood (penduduk 2..800). Letaknya pas tengah-tengah Kansas. Pas tengah-tengah Amerika.

BACA JUGA:Resmi! DBL All-Star 2026 Diumumkan, 24 Pebasket Pelajar Terbaik Siap Tampil ke Luar Negeri

Saya sampai di rumah keluarga angkat saya cukup malam. Sekitar pukul 21.00. Saya diterima di keluarga John dan Chris Mohn. Mereka punya anak perempuan yang setahun lebih senior dari saya, Andrea. 

Kata John, tahun sebelumnya mereka menerima siswa pertukaran asal Spanyol. Namun anaknya terbilang merepotkan dan mereka sempat tidak mau lagi menampung siswa pertukaran. Tapi rupanya Andrea kasihan sama saya. Anak kurus banget (47 kg) yang harus dibantu, katanya.

Mereka keluarga pemilik koran setempat, Ellinwood Leader. Sekaligus mengajar di Ellinwood High School. Chris jadi guru bahasa Spanyol dan pelatih Quiz Bowl. John pengajar English dan Journalism. Andrea termasuk aktif jadi pengurus berbagai kegiatan sekolah, khususnya teater.

Selama setahun, keluarga inilah yang menghidupi saya. Menyediakan tempat tinggal, makan, dan lain sebagainya. Setelah saya ingat-ingat, selama setahun itu, Abah saya hanya memberi saya USD 250. Itu saja.

Uang saku lain saya dapat dengan membantu John bekerja di korannya, juga membantu melatih program sepak bola anak-anak kelas 1-2 SD saat weekend.

BACA JUGA:Momen Bersejarah! Kemenpora Pertemukan Kemendikdasmen dan DBL di Indonesia Sports Summit 2025

Ya, anak yang dijauhkan dari Indonesia karena Abah-nya terancam di dunia media justru ditampung oleh pekerja media lain. Ya, saya benar-benar melatih sepak bola anak-anak SD Ellinwood. Lumayan, USD 15 per jam.

Sumber:

Berita Terkait