Ketangguhan Indonesia yang Terus Diremehkan Dunia

Ketangguhan Indonesia yang Terus Diremehkan Dunia

Ketangguhan Indonesia terus terbukti di tengah krisis global. Dari reformasi hingga pandemi, Indonesia selalu mampu bangkit dan tumbuh.--

Sejarah awal itu saja seharusnya sudah cukup untuk mengajarkan dunia agar tidak meremehkan Indonesia.

Krisis demi krisis berikutnya semakin memperlihatkan karakter bangsa ini.

BACA JUGA:Waspada Hantavirus! Ini Cara Penularan, Gejala, dan Situasi Terbaru di Indonesia

Krisis Asia 1998 merupakan salah satu krisis ekonomi paling berat dalam sejarah modern. 

Ekonomi Indonesia terkontraksi lebih dari 13 persen. Nilai tukar rupiah runtuh. Inflasi melonjak di atas 70 persen. Ribuan perusahaan bangkrut dan jutaan masyarakat jatuh miskin dalam waktu singkat.

Pada saat itu banyak pihak asing memprediksi Indonesia akan mengalami disintegrasi sosial maupun politik.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Indonesia melakukan reformasi besar-besaran. Sistem perbankan diperbaiki, demokrasi diperkuat, institusi negara dibangun ulang, dan kepercayaan investor perlahan kembali tumbuh. 

BACA JUGA:Aktif Berorganisasi Saat Kuliah, Alumni Teknokrat Ini Kini Berkarier sebagai Site Supervisor

Dalam waktu relatif singkat, Indonesia kembali menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Hari ini, Indonesia telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20 dan BRICS, dengan nilai ekonomi lebih dari US$1,3 triliun.

Yang menarik, ketahanan ekonomi Indonesia bukan hanya bertumpu pada ekspor atau kekuatan korporasi besar. Fondasi utamanya justru berada pada masyarakat itu sendiri.

Lebih dari 64 juta UMKM menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Sektor ini menyumbang sekitar 61 persen terhadap PDB nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Dalam setiap krisis, UMKM selalu menjadi bantalan sosial ekonomi bangsa.

BACA JUGA:Isu PIP-KIP Seret Nama Kadafi, Kuasa Hukum: Ini Bukan Kasus Hukum, Tapi Konflik Keluarga!

Ketika sektor formal melambat, masyarakat Indonesia tetap bergerak melalui ekonomi keluarga, usaha kecil, komunitas lokal, koperasi, dan solidaritas sosial.

Sumber: