Gerakan Cinta Bahasa Daerah, SMAN 5 dan SMAN 10 Bandar Lampung Terapkan Kamis Beradat
Gerakan Cinta Bahasa Daerah, SMAN 5 dan SMAN 10 Bandar Lampung Terapkan Kamis Beradat--
LAMPUNG.DISWAY.ID - Upaya pembiasaan penggunaan bahasa Lampung di lingkungan sekolah mulai digerakkan secara masif. Melalui program bernama “Kamis Beradat”, sejumlah sekolah menengah atas (SMA) di Bandar Lampung mewajibkan siswa dan guru untuk berkomunikasi menggunakan bahasa daerah sebagai langkah nyata menjaga identitas serta warisan budaya lokal.
Program ini telah diterapkan di berbagai sekolah, termasuk SMAN 5 Bandar Lampung dan SMAN 10 Bandar Lampung, khususnya setiap hari Kamis. Meskipun masih dalam tahap pembiasaan, langkah ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan keterampilan berbahasa Lampung di kalangan generasi muda.
Program Kamis Beradat: Dari Kelas hingga Koridor Sekolah
Di SMAN 5 Bandar Lampung, program Kamis Beradat sudah berjalan intensif meskipun belum sepenuhnya diterapkan secara menyeluruh. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, Eliyawati, M.Pd., bahasa Lampung belum digunakan 100 persen setiap hari.
BACA JUGA:UTI Gandeng SFBU Amerika, 200 Mahasiswa Ilmu Komputer Berpeluang Raih Second Degree Global
“Tidak sepenuhnya penuh. Guru saat masuk kelas sebisa mungkin menyapa siswa menggunakan bahasa Lampung. Interaksi di luar ruangan juga diupayakan, meskipun masih bercampur dengan Bahasa Indonesia,” ujar Eliyawati.
Eliyawati menjelaskan bahwa proses ini sedang dalam fase pembiasaan bertahap. Fokus utamanya adalah pada penggunaan kosakata dasar, seperti salam, sapaan, dan ungkapan sehari-hari, agar siswa dan guru terbiasa secara perlahan. Ia menegaskan, “Bahasa Lampung itu harus tumbuh dalam keseharian... minimal salam sapa dan ungkapan sehari-hari. Kalau bukan kita, siapa lagi?”
Tantangan Keragaman Latar Belakang Bahasa
Salah satu tantangan utama penerapan program ini adalah beragamnya latar belakang siswa. Tidak semua siswa memiliki kemampuan dasar berbahasa Lampung, bahkan beberapa yang bersuku Lampung pun terkadang masih canggung dan sering mencampur bahasa Indonesia saat berbicara.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 10 Bandar Lampung, Lia Kristiana, M.Pd., mengakui bahwa kemampuan berbahasa di kalangan siswa dan guru belum merata. Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah ini mengadakan kegiatan literasi bahasa setiap Kamis.
“Siswa diminta mencari 10 kosakata bahasa Lampung, kemudian membuat kalimat dan membacakannya bersama guru di kelas. Kami juga membentuk grup khusus guru bersuku Lampung untuk menyusun program pembiasaan ini,” jelas Lia.
Pendekatan literasi ini tidak hanya membantu siswa memperluas kosakata, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dalam penggunaan bahasa Lampung di lingkungan sekolah.
Bahasa Lampung dan Identitas Lokal
Program Kamis Beradat tidak semata-mata tentang pembelajaran bahasa, tetapi juga upaya menjaga identitas budaya Lampung yang kian tergerus oleh globalisasi dan dominasi bahasa nasional atau asing dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa daerah seperti bahasa Lampung menjadi salah satu wadah ekspresi budaya, sejarah, dan nilai lokal yang unik. Menguatkan bahasa daerah di sekolah diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan keterikatan terhadap warisan budaya sendiri di kalangan generasi muda.
Mengapa Pelestarian Bahasa Daerah Penting?
Sumber: