LAMPUNG.DISWAY.ID – Manfaat Bunga Tapak Dara semakin banyak menarik perhatian masyarakat karena tanaman hias ini ternyata menyimpan berbagai senyawa aktif yang telah lama menjadi objek penelitian ilmiah.
Selain mempercantik halaman rumah dengan bunga berwarna putih, merah muda, hingga ungu, Tapak Dara juga dikenal memiliki potensi sebagai tanaman obat.
Bunga Tapak Dara atau Catharanthus roseus merupakan tanaman yang berasal dari Madagaskar, namun kini telah tumbuh luas di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia.
Dalam dunia farmasi modern, tanaman ini memiliki nilai yang sangat tinggi karena mengandung alkaloid yang menjadi bahan baku beberapa obat penting.
BACA JUGA:Bunga Rosella Ternyata Punya Segudang Manfaat, dari Menjaga Jantung hingga Imunitas
Meski demikian, penting dipahami bahwa manfaat Tapak Dara tidak berarti seluruh bagian tanaman aman dikonsumsi secara bebas.
Kandungan senyawanya cukup kuat sehingga penggunaannya harus dilakukan secara bijak.
Kandungan Aktif Bunga Tapak Dara
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Tapak Dara mengandung lebih dari 100 jenis alkaloid indol. Beberapa di antaranya memiliki aktivitas biologis yang sangat kuat.
Kandungan aktif tersebut meliputi:
- Vincristine
- Vinblastine
- Vindoline
- Catharanthine
- Ajmalicine
- Serpentine
- Tannin
- Flavonoid
- Saponin
- Fenolik
- Terpenoid
- Antioksidan alami
BACA JUGA:Faloak, Tanaman Herbal Asli Indonesia yang Dipercaya Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Dua senyawa yang paling terkenal adalah vincristine dan vinblastine, yang telah dimanfaatkan dalam dunia kedokteran sebagai komponen obat kemoterapi untuk beberapa jenis kanker.
Senyawa tersebut diproduksi melalui proses farmasi yang sangat ketat dan tidak sama dengan mengonsumsi tanaman secara langsung.
Manfaat Bunga Tapak Dara untuk Kesehatan
Berikut beberapa manfaat Tapak Dara yang telah banyak diteliti.
1. Menjadi Sumber Senyawa Obat Kanker
Manfaat paling terkenal dari Tapak Dara adalah sebagai sumber alkaloid vincristine dan vinblastine.
Kedua senyawa ini digunakan dalam terapi berbagai jenis kanker, seperti leukemia, limfoma Hodgkin, limfoma non-Hodgkin, hingga beberapa jenis kanker anak. Namun, penggunaannya hanya dilakukan dalam pengawasan tenaga medis.