Setiap Ramadan, komunitas itu menggelar kajian rutin mingguan. Para anggota bergiliran menjadi imam dengan target khatam satu juz per hari. Kegiatan tersebut juga diisi diskusi buku dan jurnal seputar studi Al-Qur’an dan tafsir.
Bagi Idris, menuntut ilmu di bulan Ramadan memiliki makna spiritual yang lebih dalam. Ia meyakini bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, terlebih ketika kesungguhan itu ditempa di bulan suci.
Selama tujuh tahun tinggal di Tunisia, ia baru dua kali pulang ke Indonesia. Bahkan dalam lima tahun pertama, ia sama sekali tidak kembali karena keterbatasan biaya. Kini, ia berupaya setidaknya setahun sekali pulang ke Lampung.
Yang paling ia rindukan adalah kebersamaan keluarga—mulai dari tarawih bersama, buka puasa dengan sahabat lama, hingga gema takbir pada malam Idulfitri.
Untuk generasi muda Lampung, Idris menitipkan pesan penuh makna agar tidak berhenti bermimpi.
“Gantungkan cita-citamu lima sentimeter di depan mata. Jangan terlalu dekat, jangan terlalu jauh,” pesannya.
“Supaya tetap terlihat dan terus kamu kejar, kapan pun dan di mana pun berada.”