LAMPUNG.DISWAY.ID - Isu mengenai potensi Perang Dunia III kembali mencuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Situasi di sejumlah kawasan membuat publik bertanya-tanya: negara mana yang paling aman jika konflik berskala besar benar-benar pecah?
Di antara nama-nama yang disebut, Indonesia ikut masuk dalam pembahasan. Beberapa media internasional menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang dinilai relatif aman jika terjadi perang global. Posisinya bahkan kerap disandingkan dengan negara seperti Selandia Baru, Swiss, dan Islandia.
Namun, benarkah Indonesia benar-benar aman? Atau penilaian tersebut hanya pembacaan sederhana dari situasi dunia yang jauh lebih kompleks?
BACA JUGA:Bunda Eva Dorong Peningkatan Layanan Transportasi, Janji Perjuangkan PPPK Paruh Waktu
Jika ditelusuri lebih dalam, daftar negara yang disebut “relatif aman” itu bukan berasal dari laporan resmi lembaga internasional. Sejumlah media seperti Express.co.uk dan The Economic Times pernah merangkum pandangan akademisi dan pakar geopolitik mengenai negara-negara dengan risiko lebih rendah dalam skenario konflik global.
Artinya, ini bukan prediksi pasti, melainkan analisis berbasis kondisi geopolitik terkini.
Salah satu faktor yang membuat Indonesia masuk dalam kategori tersebut adalah kebijakan politik luar negeri yang menganut prinsip “bebas dan aktif”. Indonesia tidak tergabung dalam aliansi militer besar dan selama ini cenderung menjaga posisi netral dalam konflik antarnegara adidaya. Dalam skenario perang besar, posisi semacam ini dinilai dapat mengurangi kemungkinan menjadi target langsung.
BACA JUGA:Tangis Bahagia Warnai Ramadan, Telkomsel Ajak Anak Panti Belanja dan Buka Puasa Bersama
Selain itu, faktor geografis juga kerap disebut. Indonesia relatif jauh dari kawasan yang selama ini menjadi pusat ketegangan militer dunia, seperti Eropa Timur maupun Timur Tengah. Negara-negara yang berada dekat dengan pusat kekuatan militer global biasanya dianggap lebih berisiko terdampak langsung jika konflik meluas.
Meski demikian, istilah “aman” tidak bisa dimaknai secara mutlak.
Dalam perang berskala global, dampak yang muncul tidak selalu berupa serangan militer. Justru efek ekonomi sering kali menjadi dampak paling nyata. Gangguan perdagangan internasional, krisis energi, terganggunya rantai pasok, hingga lonjakan harga kebutuhan pokok adalah risiko yang sangat mungkin terjadi.
Indonesia sendiri masih terintegrasi erat dengan sistem ekonomi global. Ketergantungan pada perdagangan internasional, impor energi tertentu, serta teknologi dari luar negeri membuat Indonesia tetap berpotensi terdampak jika konflik global mengguncang stabilitas ekonomi dunia.
BACA JUGA:Unila Masuk Peringkat Dunia QS 2026, Strategi Akselerasi Menuju Kampus Berkelas Internasional
Tekanan pada nilai tukar, inflasi, hingga ketidakpastian pasar menjadi skenario yang lebih realistis, meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik bersenjata.
Karena itu, istilah “relatif aman” lebih tepat diartikan sebagai tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan negara lain, bukan berarti kebal sepenuhnya dari dampak global.