Mari kita hitung secara realistis.
Contoh 1: AC 1 PK Inverter (750 watt)
- Pemakaian 8 jam/hari
- 750 watt × 8 jam = 6 kWh
- 6 kWh × 30 hari = 180 kWh
- Jika tarif listrik Rp1.500/kWh:
- 180 × 1.500 = Rp270.000/bulan
BACA JUGA:10 Usaha yang Bakal Hits di 2026, Peluang Cuan Besar di Era Digital dan Gaya Hidup Baru
Contoh 2: AC 1 PK Non-Inverter (900 watt)
- 900 watt × 8 jam = 7,2 kWh
- 7,2 × 30 hari = 216 kWh
- 216 × 1.500 = Rp324.000/bulan
- Selisih: Rp54.000 per bulan
- Dalam 1 tahun = Rp648.000
Artinya, selisih harga awal inverter bisa tertutup dalam 1–2 tahun.
4. Hitung Total Cost of Ownership (TCO)
Jangan hanya melihat harga beli.
Misalnya:
- Harga AC inverter: Rp4.500.000
- Biaya listrik per tahun: Rp3.240.000
- Servis 3x setahun (Rp100.000): Rp300.000
- Total tahun pertama: ±Rp8.040.000
Dengan menghitung seperti ini, Anda bisa tahu dampak sebenarnya terhadap anggaran keluarga.
BACA JUGA:Rekomendasi Lapangan Padel di Lampung untuk Pemula & Komunitas
5. Biaya Perawatan yang Sering Terlupakan
AC perlu perawatan rutin agar tetap hemat.
Estimasi biaya tahunan:
- Cuci AC: Rp75.000–150.000
- Tambah freon (jika perlu): Rp200.000–400.000
- Perbaikan ringan: Rp300.000–700.000
Jika jarang diservis, AC menjadi boros listrik dan umur pakai lebih pendek.
6. Strategi Mengatur Keuangan Saat Membeli AC
Agar tidak mengganggu stabilitas finansial:
- Gunakan Aturan 30%
- Total cicilan elektronik sebaiknya tidak lebih dari 30% sisa penghasilan setelah kebutuhan pokok.
- Siapkan Dana Darurat
Minimal 3–6 bulan pengeluaran rutin sebelum membeli barang elektronik mahal.
Hindari Impulsive Buying
Bandingkan minimal 3 merek sebelum memutuskan.