Menjadi sumber serat dan mineral
Selain senyawa bioaktif, rumput laut dapat menyumbang serat serta berbagai mineral seperti kalsium, magnesium, zat besi dan kalium.
Komposisi nutrisi tersebut membuat kelp menarik sebagai salah satu bahan pangan laut yang dapat melengkapi pola makan, terutama jika dikonsumsi sebagai bagian dari diet yang beragam.
Potensi aktivitas antiinflamasi
Fucoidan, phlorotannin dan beberapa senyawa lain dari rumput laut cokelat telah diteliti terkait respons inflamasi.
Penelitian tersebut menunjukkan adanya potensi aktivitas biologis yang menarik, tetapi hasil praklinis tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa kelp mampu mengobati penyakit peradangan pada manusia.
BACA JUGA:Daun Kapuk Ternyata Punya Banyak Khasiat, Ini Kandungan Aktif dan Manfaatnya untuk Tubuh
Kelp Tidak Boleh Dikonsumsi Berlebihan
Di balik kandungan nutrisinya, kelp memiliki aspek keamanan yang perlu diperhatikan, terutama terkait iodium.
Kandungan iodium pada rumput laut dapat berbeda sangat jauh antarspesies. Kelp tertentu bahkan memiliki konsentrasi yang sangat tinggi.
Asupan iodium berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi tiroid, termasuk hipotiroidisme atau hipertiroidisme pada kondisi tertentu.
Rumput laut juga dapat menyerap mineral atau kontaminan tertentu dari lingkungan laut. Karena itu, sumber kelp, kualitas bahan baku dan proses pengolahannya menjadi faktor penting.
Penelitian menunjukkan pengolahan seperti pencucian atau perebusan dapat mengurangi sebagian kandungan iodium, tetapi tingkat pengurangannya bergantung pada spesies dan metode yang digunakan.
BACA JUGA:Rahasia Khasiat Bawang Bombay: Kandungan Aktif, Manfaat, dan Cara Konsumsinya
Kelp Menarik, tetapi Bukan Obat
Kelp memang memiliki profil nutrisi dan senyawa bioaktif yang menarik. Iodium, alginat, fucoidan, laminarin, fucoxanthin, phlorotannin dan fucosterol menjadi beberapa komponen yang paling sering dibahas dalam penelitian rumput laut cokelat.
Sejumlah penelitian menunjukkan potensi aktivitas antioksidan, antiinflamasi dan metabolik dari komponen tersebut.
Namun, penelitian terhadap senyawa terisolasi, ekstrak, kultur sel atau hewan tidak dapat langsung disamakan dengan manfaat klinis mengonsumsi kelp pada manusia.