Penelitian manajemen menunjukkan bahwa konflik sering terjadi bukan karena kompetensi rendah, tetapi karena mismatch gaya kerja.
Adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri, melainkan bentuk kecerdasan profesional.
6. Bangun Reputasi Luas di Dalam Perusahaan
Jangan hanya bergantung pada satu penilaian atasan langsung.
Bangun:
- Relasi lintas divisi
- Kolaborasi proyek
- Dukungan mentor internal
Riset jaringan organisasi menunjukkan bahwa karyawan dengan koneksi internal luas memiliki daya tahan karier lebih kuat saat menghadapi konflik vertikal.
Reputasi kolektif sering kali lebih berpengaruh daripada opini satu individu.
BACA JUGA:Bisakah Diet Selama Bulan Puasa? Ini Cara Aman dan Efektif Menurunkan Berat Badan Saat Ramadhan
7. Siapkan Exit Strategy demi Kesehatan Mental
Jika setelah berbagai upaya situasi tetap toksik, Anda perlu realistis.
Menurut survei Gallup, alasan utama karyawan resign bukan gaji, melainkan hubungan dengan atasan.
Mulailah:
- Memperbarui CV
- Mengembangkan skill baru
- Mengaktifkan LinkedIn dan jejaring profesional
- Mengikuti pelatihan tambahan
Memiliki rencana cadangan menurunkan tingkat stres secara signifikan karena Anda merasa memiliki kontrol atas masa depan.
Kapan Harus Bertahan dan Kapan Harus Pergi?
Bertahan jika:
- Kritik masih berbasis kinerja
- Ada ruang komunikasi
- Tidak ada intimidasi atau pelecehan
Pertimbangkan keluar jika:
Terjadi pelecehan verbal
- Penilaian tidak objektif secara sistematis
- Kesehatan mental terganggu serius
- Tidak ada mekanisme HR yang adil
Karier adalah maraton, bukan sprint. Lingkungan kerja yang sehat jauh lebih penting daripada jabatan sesaat.
Menghadapi atasan yang tidak menyukai Anda memang menantang, tetapi bukan akhir dari perjalanan karier.